
By : Alfred Christyadi (SSR Club)
Semua kegiatan investasi pada hakekatnya memiliki motif (primary motif) dan tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan sejumlah keuntungan atau laba dalam jumlah tertentu. Motif mendasar (primary motif) dari investasi yang membedakan antara kegiatan investasi (investment) dan kegiatan menabung (saving) yang motif dan tujuan utamanya adalah untuk tujuan proteksi atau perlindungan dan untuk memperoleh rasa aman melalui tindakan berjaga-jaga dengan mencadangkan sejumlah dana.
Suatu realitas bahwa setiap kegiatan investasi akan selalu melibatkan aspek keuntungan pada satu sisi dan aspek resiko pada sisi lainnya dan hal ini menyebabkan suatu kegiatan investasi hanya dapat dipertanggung jawabkan apabila seseorang minimal telah memperoleh gambaran yang relatif jelas terhadap kedua aspek tersebut yaitu prospek keuntungan yang mungkin diperoleh serta di satu sisi lain, segala resiko yang mungkin dihadapinya. Ada beberapa kriteria mendasar apakah suatu investasi layak dilakukan ataukah tidak layak dilakukan. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tingkat Keuntungan Investasi Yang Diharapkan
Hal ini dapat diukur dengan berbagai metode yang tersedia, salah satu metode yang paling umum adalah dengan mengukur tingkat pengembalian investasi atau dikenal dengan istilah Return On Investment (ROI) yang tidak saja memperhitungkan persentase laba terhadap modal, tetapi juga memperhitungkan periode waktu pengembalian investasi.
2. Tingkat Resiko Investasi Yang Akan Dihadapi
Ada banyak metode untuk mengukur tingkat resiko suatu investasi namun yang paling mendasar adalah mengukur Risk Benefit Ratio yang membandingkan tingkat manfaat yang dapat diperoleh dengan tingkat resiko yang harus dihadapi.
3. Tingkat Likuiditas Suatu Investasi
Ukuran likuiditas tersebut pada hakekatnya mengacu pada dua aspek dasar, yaitu seberapa cepat suatu investasi mulai menghasilkan keuntungan dana tunai (seberapa cepat penerimaan dana hasil investasi didapatkan kembali), kemudian seberapa cepat suatu investasi dapat dikonversikan kembali menjadi dana tunai apabila muncul kebutuhan dana tunai secara mendadak.
4. Tingkat Kompleksitas Atau Kerumitan Suatu Investasi
Semakin rumit suatu kegiatan investasi maka semakin tidak menariklah kegiatan investasi itu. Kompleksitas suatu kegiatan investasi menyangkut juga kompleksitas pada berbagai tahapan proses investasi termasuk pula dalam hal ini proses manajemen pelaksana kegiatan investasi bersangkutan.
5. Tingkat Kesulitan Memulai Kegiatan Investasi (Entry Barrier)
Entry barrier adalah hambatan-hambatan tertentu yang merintangi seseorang calon investor untuk dapat memulai atau menerjuni kegiatan investasi tersebut. Entry Barrier ini bisa mencakup berbagai aspek ekonomi dan non ekonomi antara lain misalnya : besarnya ukuran permodalan yang dibutuhkan , tingginya tingkat persaingan bisnis, tingginya tingkat kesulitan teknologi, tidak tersedianya sarana dan prasarana pendukung, sulitnya perijinan, langkanya bahan baku utama dan berbagai hal lainnya ang merintangi berlangsungnya suatu kegiatan investasi secara sederhana dan mudah.
6. Tingkat Familiaritas Suatu Kegiatan Investasi
Faktor selanjutnya adalah faktor pengenalan (familiaritas) serta pemahaman seorang calon investor terhadap kegiatan investasi yang akan diterjuninya, dimana faktor ini dapat menjadi suatu faktor yang sangat penting yang dapat mempengaruhi keputusan akhir untuk menerima ataupun menolak suatu usulan rencana investasi yang akan diajukan. Faktor terakhir ini sebenarnya dapat diatasi dengan mengupayakan akses informasi yang seluas-luasnya terhadap kegiatan investasi bersangkutan.
Pada kenyataannya seorang investor dalam memutuskan atau menentukan apakah suatu investasi layak dilakukan atau tidak layak dilakukan dipengaruhi berbagai pertimbangan lain selain faktor-faktor tersebut di atas, pertimbangan-pertimbangan ini sangat beragam dan meliputi mulai dari pertimbangan teknis dari berbagai segi hingga pertimbangan yang bersifat subjektif semata-mata.
Semua kegiatan investasi pada hakekatnya memiliki motif (primary motif) dan tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan sejumlah keuntungan atau laba dalam jumlah tertentu. Motif mendasar (primary motif) dari investasi yang membedakan antara kegiatan investasi (investment) dan kegiatan menabung (saving) yang motif dan tujuan utamanya adalah untuk tujuan proteksi atau perlindungan dan untuk memperoleh rasa aman melalui tindakan berjaga-jaga dengan mencadangkan sejumlah dana.
Suatu realitas bahwa setiap kegiatan investasi akan selalu melibatkan aspek keuntungan pada satu sisi dan aspek resiko pada sisi lainnya dan hal ini menyebabkan suatu kegiatan investasi hanya dapat dipertanggung jawabkan apabila seseorang minimal telah memperoleh gambaran yang relatif jelas terhadap kedua aspek tersebut yaitu prospek keuntungan yang mungkin diperoleh serta di satu sisi lain, segala resiko yang mungkin dihadapinya. Ada beberapa kriteria mendasar apakah suatu investasi layak dilakukan ataukah tidak layak dilakukan. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tingkat Keuntungan Investasi Yang Diharapkan
Hal ini dapat diukur dengan berbagai metode yang tersedia, salah satu metode yang paling umum adalah dengan mengukur tingkat pengembalian investasi atau dikenal dengan istilah Return On Investment (ROI) yang tidak saja memperhitungkan persentase laba terhadap modal, tetapi juga memperhitungkan periode waktu pengembalian investasi.
2. Tingkat Resiko Investasi Yang Akan Dihadapi
Ada banyak metode untuk mengukur tingkat resiko suatu investasi namun yang paling mendasar adalah mengukur Risk Benefit Ratio yang membandingkan tingkat manfaat yang dapat diperoleh dengan tingkat resiko yang harus dihadapi.
3. Tingkat Likuiditas Suatu Investasi
Ukuran likuiditas tersebut pada hakekatnya mengacu pada dua aspek dasar, yaitu seberapa cepat suatu investasi mulai menghasilkan keuntungan dana tunai (seberapa cepat penerimaan dana hasil investasi didapatkan kembali), kemudian seberapa cepat suatu investasi dapat dikonversikan kembali menjadi dana tunai apabila muncul kebutuhan dana tunai secara mendadak.
4. Tingkat Kompleksitas Atau Kerumitan Suatu Investasi
Semakin rumit suatu kegiatan investasi maka semakin tidak menariklah kegiatan investasi itu. Kompleksitas suatu kegiatan investasi menyangkut juga kompleksitas pada berbagai tahapan proses investasi termasuk pula dalam hal ini proses manajemen pelaksana kegiatan investasi bersangkutan.
5. Tingkat Kesulitan Memulai Kegiatan Investasi (Entry Barrier)
Entry barrier adalah hambatan-hambatan tertentu yang merintangi seseorang calon investor untuk dapat memulai atau menerjuni kegiatan investasi tersebut. Entry Barrier ini bisa mencakup berbagai aspek ekonomi dan non ekonomi antara lain misalnya : besarnya ukuran permodalan yang dibutuhkan , tingginya tingkat persaingan bisnis, tingginya tingkat kesulitan teknologi, tidak tersedianya sarana dan prasarana pendukung, sulitnya perijinan, langkanya bahan baku utama dan berbagai hal lainnya ang merintangi berlangsungnya suatu kegiatan investasi secara sederhana dan mudah.
6. Tingkat Familiaritas Suatu Kegiatan Investasi
Faktor selanjutnya adalah faktor pengenalan (familiaritas) serta pemahaman seorang calon investor terhadap kegiatan investasi yang akan diterjuninya, dimana faktor ini dapat menjadi suatu faktor yang sangat penting yang dapat mempengaruhi keputusan akhir untuk menerima ataupun menolak suatu usulan rencana investasi yang akan diajukan. Faktor terakhir ini sebenarnya dapat diatasi dengan mengupayakan akses informasi yang seluas-luasnya terhadap kegiatan investasi bersangkutan.
Pada kenyataannya seorang investor dalam memutuskan atau menentukan apakah suatu investasi layak dilakukan atau tidak layak dilakukan dipengaruhi berbagai pertimbangan lain selain faktor-faktor tersebut di atas, pertimbangan-pertimbangan ini sangat beragam dan meliputi mulai dari pertimbangan teknis dari berbagai segi hingga pertimbangan yang bersifat subjektif semata-mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar